I am a monster.. Are you..??

Stupido's posts with tag: anjing

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag anjing
Blog EntryPutra - Putri Solo 2006Feb 4, '08 2:12 PM
for everyone
    Pernahkah kamu merasa salah masuk kamar? Bingung bagaimana bisa terjebak di dalamnya? Itu yang dulu pernah saya rasakan. Mengikuti kontes bangsat. Dimana saya hanya berperan sebagai penggembira saja. Aduh tololnya, bagaimana bisa saya terjebak di dalam sana? Itu sama sekali bukan jiwa saya, ya mungkin jiwa saya yang masih labil, masih sangat labil. Anjing saya jadi malu sendiri kalo cerita, tapi ya memang saya ini orang yang memalukan. Jadi kalau mau memalukan ya jangan setengah-setengah.
    Bermula dari bujukan teman yang iseng-iseng pengen daftarin saya ke kontes tersebut karena iming-iming hadiah yang menggiurkan. Ya, memang hadiahnya sangat menggiurkan, siapa yang tidak mau dapet uang jutaan rupiah, handphone, DVD player, TV dan juga liburan ke Malaysia? Oh, polos nian diriku saat itu bisa terlena rayuan temen. Lalu iseng-iseng tanpa sepengetahuan saya, teman saya itu mendaftarkan saya. Saya sempet kaget saya kira itu cuma bercanda saja. Karena tidak setuju, saya langsung mendatangi Dinas Kebudayaan dengan niat untuk mencabut formulirnya. Kesalahan saya saat itu adalah saya membawa serta orang tua saya, karena niat saya biar mereka yang bicara dan mencabutnya. (Aduh, seperti anak gadis yang takut kehilangan keperawananya saya ini waktu itu) Ternyata orang tua saya mengenal salah satu dari panitia kontes konyol itu. Itu dia letak kesalahanya, yang niat awalnya mencabut formulir orang tua saya malah menggebu-gebu memaksa saya ikut , mereka seperti korban MLM saja. Dengan mudahnya mereka terpedaya kata-kata panitia itu. Dengan iming-iming nanti cari kuliahan gampang, beasiswa banyak, banyak pengalaman, dan segala macam bullshit lainya.
    OK, dengan terpaksa saya mengikuti apa suruhan orang tua saya. Sekali-kali lah dalam seumur hidup membalas jasa budi mereka. Toh, ga ada salahnya juga (pikirku waktu itu...). Hari pertama seleksi saya sudah terlihat tidak niat. Saya datang dengan salah kostum. Di pengumuman sih hanya tertulis kalau seleksi tahap awal adalah tes tertulis mengenai aset pariwisata dan budaya kota Solo (sudah pasti, karena nantinya yang kepilih bakal jadi Duta Wisata..) dan juga interview. Dengan PD-nya saya mengenakan sneakers,celana jins, dan poloshirt. (Ah, saya pikir itu sudah cukup rapi untuk sekedar test dan interview saja..). Whoops..!! Ternyata saya salah besar. peserta lainya ternyata pada memakai hem batik dan juga celana halus serta sepatu PDH. Saya benar-benar merasa seperti orang asing. Lalu saya bertanya kepada salah satu peserta. "Wah, mas niat amaat, pake batik segala, kan ini cuman test doank.." Lalu si dia menjawab. "Aduh mas kayanya kamu deh yang salah kostum, lha situ mau maen-maen apa mau ikut seleksi..?" Karena malu sendiri akhirnya saya putuskan untuk cuek saja. Toh, saya juga tidak terlalu niat. Tapi ternyata pas tes tertulis saya menjadi pusat perhatian para panitianya. Lalu salah seorang panitia menghardik saya dan menyuruh saya untuk pulang setelah tes tertulis dan kembali lagi nanti pada saat interview, dengan mengenakan hem batik, celana halus, dan sepatu pdh. Sialan, ya udah mau ga mau saya pulang dan memakai seragam orang kawinan itu.
    Lalu berlangsunglah seleksi interview dan bla.. bla.. bla.. Oh saya sudah berharap ini semua berakhir. Paling nggak udah melegakan hati orang-orang. Saya berharap tidak lolos dan bisa bilang kalau saya sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi, takdir berkata lain keesokan harinya nama saya bahkan terpampang di harian umum kota kalau saya masuk semi finalis. Wah saya shock berat, padahal kemarin udah keliatan ga niat sama sekali. Oh iya saya lupa ngasi tau kalau seluruh peserta kontes ini adalah model-model yang tidak cerdas sama sekali dan hanya mengandalkan tampang saja. Jadi dari 10 semifinalis cewek dan 10 cowok itu, 15 orang kebanyakan berprofesi sebagai model dan spg. Katanya kalo model bisa menang kontes ini harganya bakal naik. Oh, saya tidak peduli dengan hal itu. Sedang 5 orang lainya adalah saya sendiri sebagai pelajar biasa, trus cowok yang terobsesi dengan kontes ini, bahkan dia sudah mengikutinya 3 kali dan tidak pernah menang, lalu ada juga yang dari keluarga yang juga terobsesi dengan kontes ini, hingga menjadi beban mental untuknya bisa menangkan kontes ini. Dan lainya juga hanyalah mahasiswa biasa yang sama terjebaknya dengan saya, bedanya adalah mereka benar-benar niat mengikuti arus kekonyolan ini.
    Tapi ternyata ada sisi positifnya juga. Selama dikarantina saya dikenalkan dengan berbagai budaya yang sering saya lupakan sebagai anak muda. Kami berkunjung ke museum, rumah batik, belajar bahasa Jawa, bahkan kami sempat bermain bersama menjadi wayang orang di Gedung Wayang Orang Sriwedari. Dari sini saya bisa benar-benar menghargai sebuah budaya. Dan yang saya ingat. Ketika saya disuruh memerankan tokoh prajurit dalam kisah wayang orang itu ternyata susah sekali. Padahal hanya seorang prajurit. Tapi butuh waktu berhari-hari untuk latihan. Saya sangat prihatin dengan wayang orang ini yang kini telah dilupakan banyak orang. Bapak yang mengajari saya itu juga sering cerita. Biasanya pertunjukan mereka hanyalah ditonton 5 atau 6 orang saja. Bayangkan, dalam gedung itu hanya ada 5 atau 6 orang yang masih peduli. Dan saya tau sekali kalau itu tidak akan cukup untuk melanjutkan kehidupan apalagi dengan harga tiket masuk yang hanya Rp.3000,00. Yah gampangnya seperti iklan rokok "Sejati" dimana mereka mulai curhat dan putus asa dengan sekaratnya budaya kita. Iklan itu benar-benar nyata terjadi, dan bedanya adalah mereka tidak mendapatkan penonton banyak meskipun gatotkacanya bisa terbang. Tidak, tidak seperti dalam iklan itu.
    Ada lagi yang menarik, karena sepinya pengunjung itu mereka juga tidak memiliki dana yang cukup untuk perawatan kostum serta untuk membeli kosmetik. Jadi kosmetik yang dipakainya adalah sangat tradisonal sekali dan memang bahan-bahan yang murah. Untuk lulur diganti dengan bahan yang mirip dengan bahan cat yang susah hilangnya. Dan untuk hitam-hitamnya itu mereka tidak menggunakan eyeliner,eyeshadow,mascara atau apalah namanya saya ga begitu mengerti. Tapi mereka menggunakan tumbukan arang hitam yang dipadatkan. menarik sekaligus prihatin saya bisa berada di dalam backstage itu.
    Selain belajar bermain wayang orang, nembang macapat, bahasa krama, serta belajar membatik. Saya mendapatkan banyak pengalaman dari itu. Dan setelah seleksi lagi ternyata saya masuk final dan menjadi finalis. Dan saya merupakan finalis termuda pada saat itu. Tapi seperti yang sudah saya duga dan saya bilang sebelumnya. Saya tidak mungkin menang karena kontes ini hanyalah omong kosong belaka. Yang menang adalah orang-orang yang memiliki uang dan koneksi kuat. Juara 2 nya adalah menantu dari kepala pengusaha di Solo. Serta juara 3 nya yang bahakan salah menjawab di sesi tanya jawab. Bahkan dia tidak bisa mengurutkan dari ABCD langsung ke F. Ah, parah memang. Bahkan di malam sebelum final pada saat gathering saya sudah berkata pada seluruh panitia dan peserta. Kalau saya di sini hanyalah sebagai pemanis saja. Saya hanyalah pelengkap sandiwara anda. dan mereka hanya terdiam.
    Yah begitulah pengalaman memalukan saya. Kenapa saya bilang memalukan? Karena selama berbulan-bulan dan bahkan sampai saat ini kalau mereka masih ingat. Saya akan menjadi bahan tertawaan mereka yang paling hangat. Mereka pasti akan berpura-pura bertanya pertanyaan konyol yang sebenarnya mereka sudah tau jawabanya. Tapi mereka menunggu jawaban dari mulutku untuk ditertawakan dengan puas. Memalukan memang memalukan. Sempat dalam hidup saya, saya menyesal telah mengikuti kontes pembodohan itu. Tapi saya selalu mengambil dari sisi positifnya saja. Saya bisa mengenal budaya saya sendiri yang mungkin teman-teman saya bahkan tidak mengetahuinya. Saya bisa bersentuhan langsung dengan budaya, dan saya bisa turut serta dalam budaya tersebut. Dan yang pasti saya bisa lebih menghargainya meski saya tidak bisa berbuat banyak. Mungkin setelah membaca tulisan ini pun anda akan tertawa kecil. Hihihi. Tapi tenang saja. Saya sudah terbiasa menghadapinya kok. Experience is the best teacher rite..??

Blog EntryANJING..!!!!Jan 23, '08 3:13 PM
for everyone

Baru saja saya membaca buku ini, Yanusa Nugroho bercerita tentang pemuda yang hidup dengan 10 ekor anjingnya. Dan pemuda itu dianggap gila oleh orang-orang di kampungnya. Dianggap gila hanya karena terlalu sayang kepada anjing-anjingnya. Bahkan ia pernah ke masjid bersama anjingnya untuk menemui rekanya, dan yang ia dapat hanyalah cacian semata.

 

Aku hanya menunduk dan merasakan tusukan yang luar biasa. Bukankah bangunan ini digunakan untuk mengagungkan sesembahan manusia? Bukankah ini adalah bukti adanya manusia yang menjunjung keesaan Tuhan? Lalu siapakah aku ini jika bahkan menapakkan kakiku di halaman masjid pun tak dikehendaki? Benarkah Tuhan tak menghendaki manusia sepertiku? Apa salahku?

 

              Pada perayaan Maulid yang diselenggarakan di kampungnya , dia sengaja datang dan duduk di dekat pohon yang tunbuh di depan masjid, tentu saja bersama rombonganya 10 ekor. Ia menghiraukan usulan Pak hansip untuk mengikat anjing-anjingnya agar tidak masuk masjid. Rupanya hirauan itu membuat pak hansip tidak senang dan melaporkanya kepada panitia masjid. Lalu seorang pengurus masjid memanggilnya dari kejauhan, dan tentu saja ketika ia berdiri, anjing-anjingnya pun mengikutinya.

 

“Anjingnya jangan dibawa masuk, nanti menyebar najis!”

“Kalau begitu saya di sini saja supaya mereka tidak ikut” , jawabnya.

 

(Tentu saja dia takut diendus anjing-anjingku dan kesucianya akan dipertanyakan Tuhan. Haha !)

 

Ada apa Pak?”

“Begini, sampeyan kan tahu...., ini masjid. Masa ke sini bawa anjing?”

“Lho, apa saya tidak boleh ke masjid, Pak?”

“Boleh,. Tapi anjingnya ditinggal di rumah saja.”

“Saya mengerti. Tapi saya kan hanya ingin mendengarkan ceramah dari luar halaman masjid. Saya tidak bermaksud masuk ke halaman. Saya tahu bahwa dikhawatirkan anjing saya kencing sembarangan..”

“Pokoknya jangan..!!”

“Lho, mereka bahkan jauh dari pagar masjid, Pak. Zaman Nabi saja anjing biasa diikat di halaman masjid oleh pemiliknya yang salat Jumat, karena setelah itu mereka akan pergi berburu.”

“Sudah jangan jadi da’i. Salat saja nggak pernah malah sok mengutip riwayat.”

 

Pemuda itu hanya terdiam dan melihat si hansip yang geram mendengar jawabanya

“Kamu jangan jadi sok jagoan ya...!!” dengan mendadak hansip itu menyerangnya. Tanpa dikomando anjing-anjingnya pun menggonggong dan wajah hansip menjadi pucat. Panitia lain datang berhamburan berusaha mengeroyoknya. Pemuda itu menyuruh anjingnya berhentii dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia meninggalkan masjid itu.

 

Dalam hati aku hanya menangis. Aku menyaksikan anak kecil dengan sarung tambalan tertunduk di sudut masjid menatapku dengan pandangan menerawang. Itu adalah diriku yang kanak-kanak, Aku menyukai masjid yang selalu membuat hatiku sejuk dan tenteram.”

 

Apa salahnya menjadi seekor anjing, sehingga orang begitu membenci kaummu?”

 

Pada suatu malam ia melihat dua orang yang sedang berusaha menangkap anjingnya. Satu orang terlepas dan yang satu lagi berhasil dikejar anjingnya. Ia langsung mengikatnya dan menanyainya beberapa pertanyaan tentang keberadaan anjingnya dan mengapa ia tega melakukanya. Tapi ternyata orang kampung berdatangan beserta polisi. Pemuda itu ditangkap dengan tuduhan main hakim sendiri. Anjingnya berusaha menggigit orang yang membawa pemuda itu. Lalu ditembakanlah beberapa peluru ke arah anjingnya.

 

Tuhanku, siapakah mereka yang mengelilingiku saat ini? Mengapa nyala kebencian begitu mudahnya menyulut mereka? Dan, lihatlah, duhai Junjunganku, hanya karena anjing, semua menanggalkan nuraninya? Benarkah kebencian mereka sebegitu besarnya pada seekor anjing? Apa yang salah dari makhluk ciptaan-Mu ini? Aku sungguh tak mengerti.

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help