Stupido's posts with tag: curhat
Hari itu aku ditegur sama salah satu dosen pengajarku, karena nggak bisa fokus dalam kuliah. Aku inget banget gimana dia mempermalukanku di depan temen-temenku dulu. Dosen yang satu ini emang sedikit subjektif sama aku. Dia adalah tipe orang yang anti mahasiswa part timer..!! Ditambah aku juga sering telat karena jarak rumah-kampus yang cukup jauh. Dulu di depan kelas aku pernah ditanyai, “Kamu di rumah apa ya belajar mas..?” Aku ga mau munafik dan aku jawab apa adanya aja. “Jarang Pak..” Kalo bilang sering nanti kalo nggak bisa ngerjain soal malah malu-maluin kan..? Lalu dia mulai ceramahnya mengenai belajar yang nggak cuma di kampus tapi juga 70% di rumah dan sebagainya secara panjang lebar seakan-akan menyudutkanku dan memberi sampel ama temen-temen kalo aku ini sampel yang buruk dan nggak pantes ditiru.
Lalu dia tanya lagi “Lhoh, kok jarang, emang kamu sebagai mahasiswa sibuk apa sih..?? Semasa saya kuliah dulu saya punya banyak sekali waktu tuh, tapi... yaaaaaa... tergantung mahasiswanya juga, kalo waktunya cuma buat maen ke mall, jalan-jalan, ato nonton sinetron ya ga bakal maju-maju.” Lalu aku jawab “Kebetulan saya ada kerja sampingan Pak..” Dan si bapak pun menjawab “Oooh sampingan... hebat donk ya bisa cari duit sendiri. Emang kerjanya dimana..?” Lalu saya jawab lagi “Di radio pak..” Lalu dia dengan agak sinis mulai berceramah lagi. Menjelaskan mengenai kuliah lagi. Waktu yang terbuang sia-sia dan segala macemnya. Katanya kalo mau kerja, besok aja kalo udah lulus. Yang penting sekarang fokus dulu ke kuliah, nilai bagus, cari kerja gampang. (Ooohh yeeeaaah...??!! Jaminan ya..?). Katanya kalo kuliah pake acara disambi-sambi gitu ga bakal kelar-kelar kuliahnya. Karena ga bisa fokus dan pikiranya terpecah.
Lalu dia mulai menganalogkan otak dengan hard disk. “Otak kita itu seperti hard disk, mempunyai kapasitas yang terbatas, jadi pinter-pinternya kita dalam mengatur dan mengisi hard disk itu. Kalau Hard disk 250 GB yang 200 GB cuma diisi lagu-lagu aja ya ga bakal pinter-pinter, mau jadi apa nanti..??” (Disini dia nyindir aku yang kerjaanya, mungkin menurut dia cuma ngapalin lagu, artis, judul lagu dan info-infonya, tapi dengan sindiran analogi yang sangat halus ). Aku cuma diem aja dengerin dia ceramah dan ngeliatin temenku yang pada cekikikan karena mereka tau dia lagi nyindir aku. Bahkan aku yang sebagai sampel buruk ini diceritain ke kelas-kelas lain (Kelas malem, Non Reg, dan D3). Tapi aku nyantai aja kok, aku yakin hidup ga mungkin selamanya jalan lurus. Bukan berarti kalo nanti aku kuliah di Teknik nantinya bakal jadi Engineer, toh ada banyak juga Sarjana Teknik yang nganggur, dan banyak juga orang yang kerjaanya nggak sesuai sama lulusanya pas kuliah dulu.
Dalam hati aku cuma ngomong, “OK Pak, silahkan anggap saya sebagai sampel yang buruk, tapi suatu saat nanti saya yakin kalo roda itu terus berputar, mungkin saat ini saya berada di bawah, memang saya membutuhkan bapak sebagai pengajar, dan saya juga cuma bisa bilang “iya” aja sebagai mahasiswa. Tapi suatu saat nanti pasti bapak juga akan butuh bantuan saya saat giliran saya di atas nanti, entah itu secara langsung dari bapak sendiri, atau mungkin suatu saat nanti anak bapak jadi bawahan saya.” Dan aku cuma ketawa aja pas ngeliat nilai D di mata kuliah yang dia ajar. Ha Ha Ha !!
Maaf sebelumnya tidak bermaksud menyinggung satu atau beberapa pihak. Ini hanyalah perbincangan saya di malam hari dengan paman adjie setelah acara God Save The Pop. Katanya sih musik-musik indiepop ini hanyalah komunitas saja, dan mereka para band-band pelaku indiepop ini terlalu dibuat terlena oleh para media yang suka mengekspos mereka sehingga kadang mereka merasa sedikit sombong, dalam hal ini misalnya untuk membuat gigs di daerah seperti solo, pernah ada band indiepop yang mematok harga hingga 20 jt. Padahal kalau diliat dari konsumenya, apakah bisa dengan dia mematok harga segitu bisa mendatangkan orang yang sesuai. Katanya sih mending ngundang burgerkill atau seringai aja yang dibayar 4 jt aja mau dan penontonya dijamin membludak serta menghasilkan uang. Kalau saja band band indiepop tersebut juga mau dibayar 4 jt. Paling nggak dengan tiket seharga 10.000 harus bisa menjual 400 minimnya. Dan memang sedikit susah dengan gigs-gigs indiepop yang biasanya kecil-kecil. Apalagi di kota seperti solo ini yang masih merangkak untuk konsumen indiepopnya. Untuk yang mengerti lagu-lagu tersebut saja paling hanya segelintiran orang yang bisa dihitung, tidak dengan jari tapi. Tapi, ya bagaimanapun juga saya tetap menyukai indiepop, dan saya bukan orang kaya. Beruntungnya saya bisa kerja di radio, dan saya bisa menikmati lagu-lagu tersebut tanpa bersusah payah. Terima kasih juga kepada Nona Tria yang berusaha menghidupkan indiepop di solo ini dengan acaranya God Save The Pop. Yah memang untuk menikmati lagu-lagu tersebut butuh proses. Sambil "dicekok i" juga para pendengarnya. Dan saya senang sekali kalau bisa membantu teman-teman band untuk memutarkan di radio. Yah, selama saya masih bisa membantu komunitas lah. Untuk gigs-gigsnya mungkin saya memang tidak berharap lebih untuk bisa menikmatinya, walaupun ingin sekali. Karena kalau mau bikin emang agak susah. Jadi saya memilih untuk menjadi penonton, pendengar, dan penikmat musiknya saja.
| |