Stupido's posts with tag: di
Kamis Legi 28-02-2008, Hari itu di dalam tanggalan adalah hari Kamis Legi, Legi dalam tanggalan Jawa, dan dalam bahasa Jawa berarti Manis. Hari kamis itu diawali dengan beberapa kejadian tidak menyenangkan, insomnia menyerangku lagi, dan aku melakukan beberapa kegiatan tidak jelas lagi sampai jam 5 pagi, dan harus bangun lagi jam setengah 7, karena ada beberapa tugas yang belum terselesaikan, jam 7 ke kos an teman yang jaraknya cukup jauh dari rumah, lalu langsung ke radio, dan akhirnya siaran sambil mengerjakan tugas selagi off air, selesai siaran jam 10 langsung berangkat kuliah, datang telat, kena marah dosen, dan pastinya juga telat mengumpulkan tugas. Tapi, aku tetap berusaha mengumpulkan energi untuk menghadapi 5 jam perkuliahan Kimia Fisika yang cukup menguras otak. Tapi ternyata aku tidak mampu, karena kurang tidur, dan mendapat teguran beberapa kali. Selesainya kuliah, duduk di depan parkiran sambil bercerita dengan beberapa teman, tapi aku langsung meninggalkan mereka, karena masih merasa terasingkan oleh kejadian beberapa hari yang lalu, dan beberapa teman masih menyindiriku. Jadi aku langsung saja meluncur ke radio, karena ada jadwal siaran sore. Di tengah jalan ternyata hujan, dan apesnya lagi ketika mau pake jas hujan, entah kemana jas hujanku bisa hilang, jadi ya basahlah basah. Sampai di radiopun ada saja kejadian yang tidak mengenakan hati. Tanggal 28, jadwal baru keluar, dan sudah beberapa kali aku kecewa melihat jadwal baru, seperti disingkirkan perlahan-lahan. Marah, dan sedih juga karena gaji berkurang lagi bulan depan. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu hujan deraspun turun. Sambil sesekali mengamatinya, dalam hati ingin sekali aku berbaur di dalamnya. Tapi aku masih terikat dengan tanggung jawab, sehingga tidak bisa lari ke dalamnya begitu saja. Aku mengirimkan pesan singkat ke Nona “Aku ingin hujan-hujan..” dan dia pun juga mau ternyata, tapi aku harus menyelesaikan tanggung jawabku dulu. Sekitar pukul 17.03 selesai sudah tanggung jawabku dan aku mengajak si Nona untuk hujan-hujan. Lalu kami melepas sepatu dan menitipkan barang-barang di kantor. Dan kami pun mulai berlarian di dalam hujan sambil berteriak tidak jelas. Kami berencana berjalan mengelilingi Manahan, hujan-hujan, dengan telanjang kaki, bebas ! Sudah lama aku tidak menikmatinya. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa bersenang-senang tanpa mengeluarkan duit. Di jalanan kami bercerita banyak sekali, dan orang-orang di jalan melihati kami seakan sebuah tontonan. Mungkin mereka menganggap kami gila, tapi kami tidak peduli. Di pinggir jalan banyak orang berteduh dan melihat kami yang menikmati hujan ini sambil bertelanjang kaki. Aku berkata pada si Nona. “Nona, kita diliatin banyak orang..!” dan dia pun menjawab “Oh, I don’t care..!” Ya, kami tidak peduli dengan apa kata orang di sekitar, untuk sementara kami berjalan di dalam dunia kami sendiri. Dunia pelangi ! Kami menganggap hujan ini sebagai tangisan Dewi Air karena meninggalnya si Boki. Kami menyesal dulu tidak bisa menyelamatkan Boki... Dan begitulah perjalanan kami, sampai di gerbang stadion manahan itu kami mulai berlari, berlari, dan berlari sambil berteriak bebas. Lalu berjalan, menikmati hujan, dan pastinya berbincang mengenai hal-hal yang absurd. Sambil bermain pak polisi numpang tanya. Di jalanan yang sepi kami berhenti sejenak, kami duduk di jalanan itu. Ya, duduk di aspal, sambil berteman dengan dingin. Menikmati menggigil. Kami melanjutkan perjalanan, dan di tengah perjalanan kami berkenalan dan bertemu dengan si Bibri. Pohon beringin tua yang entah sudah berapa lama berada di dalam stadion itu. Lalu berjalan, dan berjalan lagi. Sambil bertanya-tanya dari mana asal kata “Hujan”. Siapa yang pertama kali menyebutnya ? Dan mengapa memilih kata hujan ? Selesai berjalan-jalan kami mampir ke warung Bu Parmo yang mungkin sedikit kaget melihat kami. Saya memakan sebungkus Geri Chocolate, 2 karak dan segelas Teh Hangat, dan memesan Mie Goreng. Sambil menunggu Mie nya matang. Aku bertanya-tanya. “Air ini terus mengalir, dan nanti akan berakhir di laut kan..? Kalau aku megirimkan pesan, apakah bisa sampai ke laut ?” Lalu kami berinisiatif untuk mengirimkan pesan. Dan kami menulisnya di secarik kertas. Tulisan yang masih aku ingat.. Halo, kamu.. Siapapun kamu yang ada di sana.. Aku yakin kamu adalah jodohku.. Dan aku yakiiin, suatu saat nanti kita pasti akan bertemu... Entah dalam dunia apa.. Walau dalam dunia imajinasi sekalipun.... (Warung makan Bu parmo 28-02-2008) Dan si Nona pun juga menulis hal serupa. Tapi aku tidak ingat pasti, jadi biar nanti dia sendiri yang bercerita. Kami melipat kertas itu dan berlari keluar, kami melihat aliran air yang deras. Sebelum kami mengirimnya, kami berbicara dengan diri sendiri dalam hati dan mulai mengalirkanya, dan melihati kertas yang terbawa arus air itu. Kami kembali ke dalam untuk menikmati mie, dan setelah itu pulang. Orang-orang kantor terheran-heran melihat kami. Tapi kami senang. Ya... senang, senang, senang !! Aku bergegas pulang untuk mandi dan langsung tidur. Tidur sepuasnya dari jam setengah delapan sampai pagi. Totalnya aku tidur 12 jam. Akhirnya bisa tidur lebih dari 8 jam ! Oooohh that I need now.. Is the rain to fall from the sky.. To wash away my pain inside.. Oooohh that i need now.. is the rain to fall from the sky.. the rain will fall, the rain will.. the rain will fall, the rain will.. the rain will fall, the rain will fall... (Mocca – And Rain Will Fall)
aJiZ: bosan BUZZ!!! nOna TriA: treenng aJiZ: treeng treeeng dut aJiZ: cikcak dudidut nOna TriA: yuuukyuuuk nOna TriA: lalala aJiZ: lalatungtungtung aJiZ: tangtingtung nOna TriA: jukahgitsnhgukimnakaki nOna TriA: yak sing nOna TriA: tenh nOna TriA: kakakak nOna TriA: kukukukukk nOna TriA: tuuuuuuuung nOna TriA: lung lung nOna TriA: mu ung nOna TriA: bin bing aJiZ: jeng ngiyet jeng ngiyeeet nOna TriA: tak dukt nOna TriA: tak diukm aJiZ: cak dung dung cak nOna TriA: denge dengeh nOna TriA: ngoh jie aJiZ: dokidokkoromokomo nOna TriA: jiee moh nOna TriA: moooooo aJiZ: tong dut dut tong nOna TriA: mooooooon nOna TriA: nooooo nOna TriA: niiiiii nOna TriA: lolo pes pes aJiZ: lokikilolkimaumau nOna TriA: jing ko nOna TriA: jin ko nOna TriA: ho so nOna TriA: so silomi nOna TriA: silokimi aJiZ: jigonggang nOna TriA: yuki hasi namuhyu nOna TriA: hyumah aJiZ: gangnggulingkang nOna TriA: huyuyiiyegadgsdg nOna TriA: yuuuukdnv akydherfo aJiZ: tukdestungdetdetdur nOna TriA: huysabaaaaaaaaaaaaaaaaaa nOna TriA: yuuuuuuksssslkaaaaaaaaaa aJiZ: songkirimari aJiZ: yukyesah nOna TriA: jiyadyu nOna TriA: komokimihhsggkkl nOna TriA: kiriimhsfiir nOna TriA: fuhi nOna TriA: fuhi nOna TriA: fuhiiiiiiiii aJiZ: jungjinggunglingkung lingkung nOna TriA: lalalallallalallalalala aJiZ: jonglingjng aJiZ: tungtak duduten nOna TriA: ajojing huihui nOna TriA: hui nOna TriA: hui nOna TriA: hui nOna TriA: sudaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah nOna TriA: saya akan pulaaaaang aJiZ: dobboleblelelebong nOna TriA: kalo 3 hari saya di magelang nOna TriA: jangan merindukan saya yahhh aJiZ: cuih nOna TriA: jangan lupa mandi kalo siaran aJiZ: nOna TriA: hahhahahahahahhahahahhahahhahhaahahha aJiZ: tidak akan nOna TriA: huiiiiiii aJiZ: akhirnya nOna TriA: suingggggggggggggggggggggggg aJiZ: untuk sementara waktu aJiZ: dunia sora-sora ninja kembali damai nOna TriA: weeeeeeeeek aJiZ: semoga tuhan memberkatimunak aJiZ: halelupa aJiZ: gorila nOna TriA: yukaaaaaaaaaaa Hohoho,obrolan absurd tidak jelas, dengan bahasa kami... hanya kami yang tau
Pernahkah kamu merasa salah masuk kamar? Bingung bagaimana bisa terjebak di dalamnya? Itu yang dulu pernah saya rasakan. Mengikuti kontes bangsat. Dimana saya hanya berperan sebagai penggembira saja. Aduh tololnya, bagaimana bisa saya terjebak di dalam sana? Itu sama sekali bukan jiwa saya, ya mungkin jiwa saya yang masih labil, masih sangat labil. Anjing saya jadi malu sendiri kalo cerita, tapi ya memang saya ini orang yang memalukan. Jadi kalau mau memalukan ya jangan setengah-setengah. Bermula dari bujukan teman yang iseng-iseng pengen daftarin saya ke kontes tersebut karena iming-iming hadiah yang menggiurkan. Ya, memang hadiahnya sangat menggiurkan, siapa yang tidak mau dapet uang jutaan rupiah, handphone, DVD player, TV dan juga liburan ke Malaysia? Oh, polos nian diriku saat itu bisa terlena rayuan temen. Lalu iseng-iseng tanpa sepengetahuan saya, teman saya itu mendaftarkan saya. Saya sempet kaget saya kira itu cuma bercanda saja. Karena tidak setuju, saya langsung mendatangi Dinas Kebudayaan dengan niat untuk mencabut formulirnya. Kesalahan saya saat itu adalah saya membawa serta orang tua saya, karena niat saya biar mereka yang bicara dan mencabutnya. ( Aduh, seperti anak gadis yang takut kehilangan keperawananya saya ini waktu itu) Ternyata orang tua saya mengenal salah satu dari panitia kontes konyol itu. Itu dia letak kesalahanya, yang niat awalnya mencabut formulir orang tua saya malah menggebu-gebu memaksa saya ikut , mereka seperti korban MLM saja. Dengan mudahnya mereka terpedaya kata-kata panitia itu. Dengan iming-iming nanti cari kuliahan gampang, beasiswa banyak, banyak pengalaman, dan segala macam bullshit lainya. OK, dengan terpaksa saya mengikuti apa suruhan orang tua saya. Sekali-kali lah dalam seumur hidup membalas jasa budi mereka. Toh, ga ada salahnya juga ( pikirku waktu itu...). Hari pertama seleksi saya sudah terlihat tidak niat. Saya datang dengan salah kostum. Di pengumuman sih hanya tertulis kalau seleksi tahap awal adalah tes tertulis mengenai aset pariwisata dan budaya kota Solo ( sudah pasti, karena nantinya yang kepilih bakal jadi Duta Wisata..) dan juga interview. Dengan PD-nya saya mengenakan sneakers,celana jins, dan poloshirt. ( Ah, saya pikir itu sudah cukup rapi untuk sekedar test dan interview saja..). Whoops..!!  Ternyata saya salah besar. peserta lainya ternyata pada memakai hem batik dan juga celana halus serta sepatu PDH. Saya benar-benar merasa seperti orang asing. Lalu saya bertanya kepada salah satu peserta. "Wah, mas niat amaat, pake batik segala, kan ini cuman test doank.." Lalu si dia menjawab. "Aduh mas kayanya kamu deh yang salah kostum, lha situ mau maen-maen apa mau ikut seleksi..?" Karena malu sendiri akhirnya saya putuskan untuk cuek saja. Toh, saya juga tidak terlalu niat. Tapi ternyata pas tes tertulis saya menjadi pusat perhatian para panitianya. Lalu salah seorang panitia menghardik saya dan menyuruh saya untuk pulang setelah tes tertulis dan kembali lagi nanti pada saat interview, dengan mengenakan hem batik, celana halus, dan sepatu pdh. Sialan, ya udah mau ga mau saya pulang dan memakai seragam orang kawinan itu. Lalu berlangsunglah seleksi interview dan bla.. bla.. bla.. Oh saya sudah berharap ini semua berakhir. Paling nggak udah melegakan hati orang-orang. Saya berharap tidak lolos dan bisa bilang kalau saya sudah berusaha sebaik mungkin.  Tapi, takdir berkata lain keesokan harinya nama saya bahkan terpampang di harian umum kota kalau saya masuk semi finalis. Wah saya shock berat, padahal kemarin udah keliatan ga niat sama sekali. Oh iya saya lupa ngasi tau kalau seluruh peserta kontes ini adalah model-model yang tidak cerdas sama sekali dan hanya mengandalkan tampang saja. Jadi dari 10 semifinalis cewek dan 10 cowok itu, 15 orang kebanyakan berprofesi sebagai model dan spg. Katanya kalo model bisa menang kontes ini harganya bakal naik. Oh, saya tidak peduli dengan hal itu. Sedang 5 orang lainya adalah saya sendiri sebagai pelajar biasa, trus cowok yang terobsesi dengan kontes ini, bahkan dia sudah mengikutinya 3 kali dan tidak pernah menang, lalu ada juga yang dari keluarga yang juga terobsesi dengan kontes ini, hingga menjadi beban mental untuknya bisa menangkan kontes ini. Dan lainya juga hanyalah mahasiswa biasa yang sama terjebaknya dengan saya, bedanya adalah mereka benar-benar niat mengikuti arus kekonyolan ini. Tapi ternyata ada sisi positifnya juga. Selama dikarantina saya dikenalkan dengan berbagai budaya yang sering saya lupakan sebagai anak muda. Kami berkunjung ke museum, rumah batik, belajar bahasa Jawa, bahkan kami sempat bermain bersama menjadi wayang orang di Gedung Wayang Orang Sriwedari. Dari sini saya bisa benar-benar menghargai sebuah budaya. Dan yang saya ingat. Ketika saya disuruh memerankan tokoh prajurit dalam kisah wayang orang itu ternyata susah sekali. Padahal hanya seorang prajurit. Tapi butuh waktu berhari-hari untuk latihan. Saya sangat prihatin dengan wayang orang ini yang kini telah dilupakan banyak orang. Bapak yang mengajari saya itu juga sering cerita. Biasanya pertunjukan mereka hanyalah ditonton 5 atau 6 orang saja. Bayangkan, dalam gedung itu hanya ada 5 atau 6 orang yang masih peduli. Dan saya tau sekali kalau itu tidak akan cukup untuk melanjutkan kehidupan apalagi dengan harga tiket masuk yang hanya Rp.3000,00. Yah gampangnya seperti iklan rokok "Sejati" dimana mereka mulai curhat dan putus asa dengan sekaratnya budaya kita. Iklan itu benar-benar nyata terjadi, dan bedanya adalah mereka tidak mendapatkan penonton banyak meskipun gatotkacanya bisa terbang. Tidak, tidak seperti dalam iklan itu. Ada lagi yang menarik, karena sepinya pengunjung itu mereka juga tidak memiliki dana yang cukup untuk perawatan kostum serta untuk membeli kosmetik. Jadi kosmetik yang dipakainya adalah sangat tradisonal sekali dan memang bahan-bahan yang murah. Untuk lulur diganti dengan bahan yang mirip dengan bahan cat yang susah hilangnya. Dan untuk hitam-hitamnya itu mereka tidak menggunakan eyeliner,eyeshadow,mascara atau apalah namanya saya ga begitu mengerti. Tapi mereka menggunakan tumbukan arang hitam yang dipadatkan. menarik sekaligus prihatin saya bisa berada di dalam backstage itu. Selain belajar bermain wayang orang, nembang macapat, bahasa krama, serta belajar membatik. Saya mendapatkan banyak pengalaman dari itu. Dan setelah seleksi lagi ternyata saya masuk final dan menjadi finalis. Dan saya merupakan finalis termuda pada saat itu. Tapi seperti yang sudah saya duga dan saya bilang sebelumnya. Saya tidak mungkin menang karena kontes ini hanyalah omong kosong belaka. Yang menang adalah orang-orang yang memiliki uang dan koneksi kuat. Juara 2 nya adalah menantu dari kepala pengusaha di Solo. Serta juara 3 nya yang bahakan salah menjawab di sesi tanya jawab. Bahkan dia tidak bisa mengurutkan dari ABCD langsung ke F. Ah, parah memang. Bahkan di malam sebelum final pada saat gathering saya sudah berkata pada seluruh panitia dan peserta. Kalau saya di sini hanyalah sebagai pemanis saja. Saya hanyalah pelengkap sandiwara anda. dan mereka hanya terdiam. Yah begitulah pengalaman memalukan saya. Kenapa saya bilang memalukan? Karena selama berbulan-bulan dan bahkan sampai saat ini kalau mereka masih ingat. Saya akan menjadi bahan tertawaan mereka yang paling hangat. Mereka pasti akan berpura-pura bertanya pertanyaan konyol yang sebenarnya mereka sudah tau jawabanya. Tapi mereka menunggu jawaban dari mulutku untuk ditertawakan dengan puas. Memalukan memang memalukan. Sempat dalam hidup saya, saya menyesal telah mengikuti kontes pembodohan itu. Tapi saya selalu mengambil dari sisi positifnya saja. Saya bisa mengenal budaya saya sendiri yang mungkin teman-teman saya bahkan tidak mengetahuinya. Saya bisa bersentuhan langsung dengan budaya, dan saya bisa turut serta dalam budaya tersebut. Dan yang pasti saya bisa lebih menghargainya meski saya tidak bisa berbuat banyak. Mungkin setelah membaca tulisan ini pun anda akan tertawa kecil. Hihihi. Tapi tenang saja. Saya sudah terbiasa menghadapinya kok. Experience is the best teacher rite..??
Sepi,sendiri dan tidak ada komunikasi sosial. Jam di kamar saya menunjukan pukul 03.13. Salah satu keanehan dalam diri saya adalah saya suka melebihkan jam-jam yang saya punya, entah itu di kamar atau bahkan jam HP. Karena saya memang orang malas, jadi saya berharap saya tidak akan telat menghadiri suatu pertemuan, janji, atau telat bangun pagi. Tapi anehnya, setiap kali mata saya tertuju pada jam-jam itu. Saya sangat sadar bahwa jam itu kelebihan 15 menit. Seperti tidak ada efeknya sama sekali. Tapi saya tetap membiarkan jam-jam itu kelebihan 15 menit begitu saja. Entah mengapa, tapi saya suka. Dan pada jam-jam saat ini juga saya sangat menikmati suasananya. Suasana dimana saya bisa berkomunikasi dengan otak saya alias meracau tidak jelas. Suasana dimana saya merasa bebas melakukan apa saja dan menjadi orang aneh tanpa takut dilihat orang-orang. Suasana dimana saya bisa benar-benar memahami, menikmati, dan memaknai sebuah musik. Bagaimana tidak..? Di jam-jam seperti inilah suara detik jam terdengar sangat jelas, padahal di siang hari kita tidak pernah memperdulikanya. Dan di jam-jam seperti inilah saya bisa mendengarkan dan memaknai sebuah msuik dengan jelas. Setiap detil instrumenya, setiap lafal vocalnya serta perpaduanya terdengar sangat jelas. Bahkan kadang kita bisa menemukan hal-hal yang menarik yang mungkin bisa membuat kita tertawa sendiri atau semakin galau ketika memaknai setiap lirik yang ada. Kadang di jam-jam seperti ini saya suka menghabiskan secangkir teh di depan teras rumah sambil mengamati jalanan yang sepi. Ya, mengamati sekitar di jam-jam seperti ini. Cukup menyenangkan. Sesekali ingin saya mengitari jalanan sepi itu dengan berjalan telanjang kaki, sambil mengamati hal-hal kecil di sekitar. Dan ditemani headset di telinga pastinya.
Cihuuiii..!! Lama sekali saya tidak bersepeda. Kemaren habis pulang ngeMC mampir dulu kerumah eyang. Hoo ternyata di sana ada tetangga lama saya yang membawa sepeda berkeranjang. Langsung saja saya sikaaaat, dan saya tukar dengan sepeda motor saya untuk sementara. Setelah itu langsung meluncur ke Radio menemui Nona Tria, mengajak untuk bersepedaan bersama. Cerita mengenai perjalanan kami bisa disimak di sini. Lalu setelah pulang dari radio saya menaruh HP saya di keranjang depan sambil memutarkan beberapa lagu. Ada The Decemberists - Legionnaire's Lament, Sambassadeur - Between The Lies, Iron & Wine - Innocent Bones dan Roisin Murphy - Love In The Making. Wah, serasa pedagang getuk keliling yang membawa radio dengan loudspeakernya, bedanya saya cuma pake HP dengan speaker ala kadarnya. Tapi itu sudah cukup untuk membuat saya terlihat aneh. Karena sepanjang perjalanan orang-orang di jalan yang saya lewati selalu melihat ke arah saya. Yessss, I am a weirdooo, i Liiike it. Saya suka menjadi orang aneh, menjadi orang yang tidak biasa. Untuk apa hidup kalau hanya menjadi orang biasa saja. Menyenangkan bersepeda keliling kota, setelah 5 tahun lamanmya tidak bersepeda. Hohoho..!!
| |